“ Kekurangan Asupan Zinc dan Protein dapat Menyebabkan Stunting (Pendek) pada Anak ”
Oleh Mexy Melda Levy
Stunting
(pendek) merupakan salah satu bentuk gizi
kurang yang ditandai dengan indikator tinggi badan menurut umur. Kekurangan gizi masa anak-anak selalu
dihubungkan dengan kekurangan vitamin mineral yang spesifik dan
berhubungan dengan mikronutrien tertentu. Beberapa tahun terakhir ini
telah banyak penelitian mengenai dampak dari kekurangan mikronutrien,
dimulai dari meningkatnya resiko terhadap penyakit infeksi dan
kematian yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan mental.
Konsekuensi defisiensi mikronutrien selama masa anak-anak
sangat berbahaya.
Kekurangan
protein murni pada stadium berat menyebabkan kwashiorkor
pada anak-anak di bawah lima tahun. Kekurangan protein juga sering
ditemukan secara bersamaan dengan kekurangan energi yang menyebabkan kondisi
yang dinamakan marasmus. Protein sendiri mempunyai banyak fungsi, diantaranya
membentuk jaringan tubuh baru dalam masa pertumbuhan dan perkembangan tubuh,
memelihara jaringan tubuh, memperbaiki serta mengganti jaringan yang rusak atau mati, menyediakan asam
amino yang diperlukan untuk membentuk enzim pencernaan dan metabolisme, dll.
Zinc
merupakan zat gizi yang esensial dan telah mendapat perhatian yang cukup besar
akhir akhir ini. Kehadiran zinc dalam tubuh akan sangat mempengaruhi fungsi
kekebalan tubuh, sehingga berperan penting dalam pencegahan infeksi oleh
berbagai jenis bakteri patogen. Berdasarkan peneltian yang sudah ada,
kekurangan zinc pada saat anak-anak dapat menyebabkan stunting (pendek) dan
terlambatnya kematangan fungsi seksual. Akibat lain dari kekurangan zinc adalah
meningkatkan resiko diare dan infeksi saluran nafas.
Faktor
gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab tidak langsung yang memberikan kontribusi
terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan
menyebabkan janin mengalami intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga
bayi akan lahir dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan
perkembangan.
Ibu memegang peranan penting dalam mendukung upaya mengatasi
masalah gizi, terutama dalam hal asupan gizi keluarga, mulai dari penyiapan
makanan, pemilihan bahan makanan, sampai menu makanan. Ibu yang memiliki status
gizi baik akan melahirkan anak yang bergizi baik. Kemampuan keluarga dalam
memenuhi kebutuhan pangan baik dalam jumlah maupun mutu gizinya sangat
berpengaruh bagi status gizi anak. Keluarga dengan penghasilan relatif tetap,
prevalensi berat kurang dan prevalensi kependekan lebih rendah dibandingkan
dengan keluarga yang berpenghasilan tidak tetap.
Anak-anak
yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan disebabkan kurangnya asupan makanan
yang memadai dan penyakit infeksi yang berulang, dan meningkatnya kebutuhan
metabolic serta mengurangi nafsu makan, sehingga meningkatnya kekurangan gizi
pada anak.
Keadaan
ini semakin mempersulit untuk mengatasi gangguan pertumbuhan yang akhirnya
berpeluang terjadinya stunting.